KKN UGM, Pembuatan POC dengan Metode Ember Bertumpuk di Desa Pegundungan

Desa Pegundungan, yang terletak di Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, merupakan salah satu daerah penghasil sayuran terbesar di wilayah tersebut. Setiap hari, aktivitas pertanian dan pasar di desa ini menghasilkan sejumlah besar limbah sayuran yang sering kali tidak dimanfaatkan dengan baik.
Limbah ini menumpuk dan menjadi masalah lingkungan yang serius, menimbulkan bau tidak sedap, dan menjadi tempat berkembang biaknya hama.
Melihat permasalahan tersebut, kelompok KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisiatif untuk mengadakan program kerja yang bertujuan untuk mengolah limbah sayuran menjadi pupuk organik cair (POC).
Program ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi volume limbah sayuran, tetapi juga untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas pertanian di Desa Pegundungan.
Program kerja KKN ini menggunakan metode ember bertumpuk dalam pembuatan pupuk organik cair. Metode ini dipilih karena sederhana, efektif, dan mudah diterapkan oleh masyarakat desa.
Selain itu, penggunaan mesin pencacah dan EM4 (Effective Microorganisms) sebagai starter fermentasi diharapkan dapat mempercepat proses penguraian limbah sayuran menjadi pupuk yang berkualitas.
Bahan dan Alat
1. Limbah Sayuran: Sisa sayuran dari kebun dan pasar.
2. Ember Bertumpuk: Digunakan sebagai wadah fermentasi.
3. Mesin Pencacah: Untuk menghancurkan limbah sayuran menjadi potongan kecil.
4. EM4: Mikroorganisme efektif yang mempercepat proses fermentasi.
5. Gula Merah: Sumber energi bagi mikroorganisme.
6. Air: Untuk melarutkan gula merah dan EM4.
Langkah-langkah Pembuatan
1. Pengumpulan Limbah Sayuran: Limbah sayuran dikumpulkan dari kebun dan pasar setempat.
2. Pencacahan: Limbah sayuran dihancurkan menggunakan mesin pencacah untuk memperluas permukaan bahan, sehingga fermentasi berjalan lebih cepat.
3. Penyusunan Ember Bertumpuk: Siapkan ember bertumpuk dengan ember paling bawah diberi lubang kecil untuk mengalirkan cairan hasil fermentasi.
4. Pencampuran EM4 dan Gula Merah: Gula merah dilarutkan dalam air hangat, kemudian dicampur dengan EM4.
5. Fermentasi: Limbah sayuran yang telah dicacah dimasukkan ke dalam ember bertumpuk, lalu disiram dengan larutan EM4 dan gula merah.
6. Penutupan Ember: Ember ditutup rapat untuk menghindari masuknya udara berlebih yang dapat mengganggu fermentasi. Proses ini berlangsung selama 2—4 minggu.
7. Pengambilan Pupuk Cair: Setelah fermentasi selesai, pupuk cair diambil dari ember paling bawah dan siap digunakan.
Program kerja KKN pembuatan pupuk organik cair dengan metode ember bertumpuk di Desa Pegundungan merupakan langkah inovatif dan praktis untuk mengatasi masalah limbah sayuran. Melalui program ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan solusi untuk masalah limbah. Namun, juga memperoleh pupuk organik berkualitas yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian. Semoga inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat.
Link : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/07/21/program-kerja-kkn-pembuatan-pupuk-organik-cair-dengan-metode-ember-bertumpuk-di-desa-pegu

Komentar