Dari Adonara ke Sikka, Berburu Ilmu Pupuk Cair dari Limbah Rumah Tangga

Camat Adonara, Kabupaten Flores Timur, Silvester Seli Tokan memimpin sejumlah kepala desa dan masyarakat Adonara melakukan studi banding pembuatan pupuk organik cair di Kangae, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.Para kepala Desa di Kecamatan Adonara yang mengikuti studi banding tersebut diantaranya Kepala Desa Nisanulan Anton Kopong dan Kades Kolilanang Ferdinand B. Bain serta sejumlah staf Kecamatan Adonara dan masyarakat Kecamatan Adonara.

Turut mengikuti kegiatan tersebut, Serka Saiful Rate selaku Babinsa Adonara, Umar Kadir sebagai Korcam pendamping desa, serta PKK dan Kelompok Tani. Hadir juga Petronela Peni sebagai Ketua Serikat PEKKA NTT.

Tidak hanya mempelajari cara pembuatan pupuk cair, para peserta berjumlah sekitar 40 orang itu juga belajar tentang ternak ayam dan pengelolaan Bundes bersama.

gnas Iking mengajak masyarakat agar “bertobat” karena sejauh ini tidak membuat limbah lebih rumah tanggah menjadi bernilai dan punya manfaat. Ia berhasil memperoduksi pupuk cair dan padat. “Pupuk yang saya hasilkan dalam bentuk cair atau Pupuk Organik Cair (POC) dan dalam bentuk padat berupa kompos dan bokashi,” sebut Ignas Iking

Ia menjelaskan soal cara mengolah limbah rumah tangga tersebut hingga dijadikan pupuk. “Pengolahan Air Cucian Beras (ACB), kulit pisang dan cangkang telur untuk dijadikan POC dalam 4 varian. Varian pertama, pemanfaatan langsung ACB, caranya ACB yang didapat ditambah dengan air sejumlah ACB tersebut (1:1) dan langsung disiram ke tanaman,” jelasnya.

“Varian kedua, untuk semua masa pertumbuhan tanaman (vegetatif dan generatif) caranya ACB 2 liter ditambah gula pasir 2 sendok makan dan EM4 Pertanian 2 tutupan atau 4 sendok makan (20ml) diaduk rata lalu masukan dalam toples atau ember dan ditutup rapat. Difermentasi selama 2 minggu dan setiap hari buka tutupannya untuk mengeluarkan gas dan ditutup kembali. Hari ke 15 sudah bisa dipanen,” katanya.


Sedangkan untuk varian ketiga untuk vase vegetative, bahannya sama dengan varian kedua ditambah toge atau rebung (mengandung hormon pertumbuhan) secukupnya. Lalu diblender atau ditumbuk halus. Masukan semua bahan dalam ember, diaduk rata dan difermentasi selama 2 minggu. Setiap hari buka tutupannya.

“Varian keempat bahannya sama dengan varian dua ditambah tepung cangkang telur 2 sendok makan dan kulit pisang 5 sampai dengan 10 buah atau kulit buah lainnya. Masukan semua bahan dalam ember lalu diaduk rata dan ditutup. Fermentasi 2 minggu, setiap hari buka tutupannya untuk keluarkan gas. Cara penggunaannya yaitu untuk varian dua sampai dengan empat yaitu 2 sendok makan POC dicampur dengan air 1 liter lalu disemprotkan pada tanaman pagi atau sore hari dengan interval waktu seminggu sekali,” jelasnya.

Dikatakan Ignasius, manfaat dari POC ACB, Cangkat Telur dan Kulit Pisang yaitu menyuburkan tanaman dan merangsang pembuahan, menghambat berkembangnya bakteri patogen, memacu pertumbuhan akar, merimbunkan daun. “Menyuburkan tanah, mengandung zat pati, menghambat shok transplantasi, sebagi sumber energi, membantu proses fotosintesis, mencegah tanaman layu, mempercepat pembentukan bunga dan buah. POC ini untuk semua jenis tanaman,” katanya.

Untuk diktahui, Ignatius Iking selain sebagai Penyuluh Pertanian Swadaya pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka dengan wilayah binaan di Desa Langir, juga sebagai Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Tingkat Kecamatan Kangae. Ia juga sebagai Wakil Ketua BPD Desa Langir, Kecamatan Kangae dan Wakil Ketua 1 Pengurus KSP Kopdit Hiro Heling Wairhubing. Dia juga dipercayakan menjadi Ketua Kelompok Tani St. Louis Maria De Monfort dan Pendamping Gapoktan Wa Wua Desa Langir.

Link : https://selatanindonesia.com/2023/12/17/dari-adonara-ke-sikka-berburu-ilmu-pupuk-cair-dari-limbah-rumah-tangga/

Komentar