Jamur Tiram Putih Subur Berkat Fermentasi EM4

Ketut Darmawan seorang penyuluh pertanian dari Desa Tangkas Kabupaten Klungkung Propinsi Bali, tersenyum puas. Pasalnya, para petani jamur tiram putih binaannya menuai hasil yang memuaskan. Berkat sarannya mengggunaan teknologi EM4, proses pengomposan pada media jamur menjadi lebih cepat, dan siap digunakan sebagai media tanam yang subur bagi jamur tiram putih.

Menurut Ketut, fermentasi EM4 pada media jamur tiram putih berfungsi untuk menambah kesuburan media tanam agar dapat memacu pertumbuhannya menuju produksi yang optimal. Hal ini disebabkan, EM4 mengandung bakteri pengurai selulosa yang mampu memfermentasikan bahan organik menjadi senyawa anorganik yang mudah diserap oleh tanaman. Tak hanya itu, EM4 juga mengandung empat jenis mikroorganisme utama yaitu lactobasillus (bakteri asam laktat), bakteri fotosintetik, ragi dan actinomycetes. Pengomposan dilakukan dalam 1-3 hari, langkah ini perlu dilakukan untuk “melunakkan” media serta menambah nutrisi bagi tanaman jamur.

Namun demikian, masih ada hambatan yang dialami oleh petani jamur diantaranya teknis budidaya, sehingga tidak heran bila jamur yang dihasilkan masih bermutu rendah. Sebetulnya hambatan tersebut bisa diatasi bila petani jamur benar-benar mengetahui bagaimana membudidayakan jamur secara baik dan benar. Dan salahsatu upayauntuk menghasilkan jamur yang baik adalah dengan penerapakan teknologi EM4. Memang jenis jamur tiram putih ini, paling banyak dibudidayakan masyarakat. Biasanya, petani jamur yang tergabung dalam binaannya kebanyakan mengolah sendiri hasil jamur yang dibudidayakannya itu menjadi makanan yang siap dikonsumsi masyarakat. Bahkan menurutnya, dalam bebarapa tahun terakhir ini jamur menjadi salah satu sayuran yang banyak diminati masyarakat baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor.

Begitu juga dengan hasil budidaya petani jamur yang menjadi binaan pria asli Klungkung Bali ini, hasil panennya hanya diolah menjadi makanan siap konsumsi, dikarenakan petani-petani yang menjadi mitranya belum siap memenuhi permintaan pasar akan jamur segar. Sehingga untuk menambah nilai jualnya, jamur-jamur tersebut diolah dan dijadikan makanan yang siap saji.‘‘Kami paling banyak mengolah jamur tiram menjadi makanan, di mana petani budidaya jamur diajarkan dan dilatih cara pengolahannya. Mulai dari penggunaan alat-alat, digoreng maupun dioven sehingga menghasilkan produk jadi yang siap dikonsumsi,” ujarnya.

 Selain itu, pihaknya juga memperoleh order atau permintaan dari restoran yang menawarkan menu chinese food untuk jamur kancing serta jamur sitake. Umumnya, kedua jenis jamur tersebut digunakan sebagai bahan baku penambah makanan Cina. ‘‘Sekarang permintaan yang banyak adalah jamur kancing sama jamur sitake, khususnya untuk restoran dan rumah makan Chinese Food di Bali. Bahkan, belum banyak yang mengembangkan kedua jenis jamur ini, sebab masih keterbatasan bibit yang lebih banyak dipasok dari Jawa,” katanya. Di tambahkan, rata-rata permintaan restoran maupun rumah makan akan jamur sitake segar mencapai 5-8 kg per hari, jamur kancing yang harganya lebih mahal permintaannya mencapai 2-4 kg per hari per restoran.

 ‘‘Kami melirik pasar restoran serta rumah makan untuk jamur segar, selain mengolah jamur menjadi jamur krispi,”terangnya. Sejalan dengan kebutuhan masyarakat terhadap jamur untuk dikonsumsi ataupun untuk bahan obat, dengan perkembangan teknologi EM4 dan pengetahuan budidaya jamur bisa menjadi bisnis yang menggiurkan sejalan dengan kebutuhan jamur konsumsi yang kian meningkat, ini berarti peluang pasar masih cukup terbuka. Nah tunggu apalagi mau budidaya jamur? Jangan lupa pergunakan teknologi EM4, hasilnya pasti memuaskan.***

Komentar